Home / BANDAR LAMPUNG / HUKUM

Kamis, 6 Mei 2021 - 10:15 WIB

AJI Minta Kasus Initimidasi Jurnalis di Lambar Diusut Tuntas

Tangkapan layar saat jurnalis Metro TV di Lampung Barat mendapat intimidasi dari orang yang diduga preman. Foto: Istimewa

Tangkapan layar saat jurnalis Metro TV di Lampung Barat mendapat intimidasi dari orang yang diduga preman. Foto: Istimewa

LAMPUNGCORNER.COM, BandarlampungAliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung mengecam keras aksi intimidasi terhadap Yehezkiel Ngantung, jurnalis Metro TV Lampung. Yehezkiel mengalami kekerasan saat menjalankan kerja-kerja jurnalistik.

“Korban telah melaporkan kasus ini ke Polres Lampung Barat. Kami mendesak kepolisian untuk mengusut tuntas kasus tersebut,” kata Ketua AJI Bandar Lampung Hendry Sihaloho dalam siaran pers yang diterima rilislampung.id (group lampungcorner.com) Rabu, 5/5/2021.

Hendry mengatakan, peristiwa itu bermula ketika Yehezkiel menyaksikan kericuhan di depan kantor bagian Unit Layanan Pengadaan di kompleks Pemkab Lampung Barat, Selasa (4/5/2021) siang. Instingnya sebagai jurnalis pun bekerja. Sambil mengatur jarak aman, Yehezkiel mendokumentasikan keributan tersebut.

addgoogle

Menyadari direkam, beberapa orang yang diduga oknum preman menghampiri Yehezkiel. Mereka melarang Yehezkiel mengambil gambar, bahkan berusaha merebut kamera sang jurnalis.

Dalam situasi tersebut, korban mendengar perkataan bernada ancaman, “jangan macam-macam! Saya pecahkan kepala kamu!”

“Berdasarkan Keterangan korban, ada seseorang yang terus mengejarnya. Saat itu, korban melihat orang yang mengejarnya menyimpan pisau yang diselipkan di bagian pinggang,” ujar Hendry lagi.

Hendry meminta semua pihak menghormati aktivitas jurnalistik. Sebab, keberadaan jurnalis untuk menjaga dan memastikan hak-hak publik terpenuhi, di antaranya hak atas informasi. Selain itu, kerja-kerja jurnalisme dilindungi Undang-undang 40 Tahun 1999 tentang Pers.

“Pasal 18 UU Pers mengatur bahwa setiap orang yang menghambat atau menghalangi aktivitas jurnalistik dipidana penjara dua tahun atau denda Rp500 juta,” terang Hendry.

Hendry juga mengimbau komunitas pers, termasuk perusahaan media, berkomitmen terhadap keselamatan jurnalis. Perlu upaya bersama-sama untuk memutus rantai kekerasan terhadap jurnalis. Bila tidak, maka kekerasan yang menimpa wartawan akan terus terulang.

“Kekerasan demi kekerasan terhadap jurnalis membuktikan bahwa kebebasan pers itu mesti diperjuangkan. Jika memang serius dan peduli akan kebebasan pers, mari mengawal kasus kekerasan terhadap jurnalis agar diusut tuntas. Jangan menoleransi upaya-upaya yang mengarah pada perdamaian,” ujar Hendry. (*)

Red

add

Share :

314 views

Baca Juga

HUKUM

Tiga Pemuda Warga Bedudu Diringkus Usai Bobol Rumah

BANDAR LAMPUNG

RS Tjokrodipo Jadi Rujukan Pasien Covid-19, Tetap Layani Umum

BANDAR LAMPUNG

Bank Lampung Dukung Galeri Dekranasda Hadir di Dermaga Eksekutif Pelabuhan Bakauheni

BANDAR LAMPUNG

Dua Mahasiswa Diculik, Dibuang ke Lamteng, dan Mobilnya Dirampas

BANDAR LAMPUNG

Aprozi Alam Tetapkan Dalela Noor sebagai Ketua Aspeknas Pesawaran

BANDAR LAMPUNG

Bandarlampung Masih Zona Oranye, Eva Pertimbangkan KBM Tatap Muka

BANDAR LAMPUNG

Bukan Geng Motor, Ini Penyebab Sekelompok Remaja Keroyok Orang di Beberapa Lokasi

BANDAR LAMPUNG

Wakil Rektor Unila Asep Sukohar Setor Rp650 Juta untuk Loloskan 3 Calon Mahasiswa