BMKG Ingatkan Ancaman Tsunami Akibat Meningkatnya Erupsi Gunung Anak Krakatau

- Jurnalis

Rabu, 27 April 2022 - 09:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Tangkapan layar

Foto: Tangkapan layar

LAMPUNGCORNER.COM, Lampung Selatan — Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) merilis ancaman tsunami seiring meningkatnya aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan status GAK kini meningkat dari level 2 atau waspada menjadi level 3 atau siaga.

Menurut dia, peningkatan aktivitas erupsi GAK ini berpotensi menimbulkan ancaman tsunami di malam hari.

“Secara historis, aktivitas Gunung Anak Krakatau ini pernah menimbulkan tsunami beberapa kali,” katanya dalam konferensi pers virtual pada Senin (25/4/2022) malam, seperti dikutip di kanal YouTube Info BMKG, Rabu (27/4/2022).

Dwikorita mengimbau seluruh pengelola usaha dan pemerintah daerah serta masyarakat untuk bersiaga setelah GAK berstatus Level 3.

Baca Juga :  Target Tayang Pekan Depan, Ini Klarifikasi Barjas Soal Tender Proyek Jalan dan Jembatan Lampura

Hal itu, lanjut dia, bukan berarti waktunya melakukan evakuasi atau fase kedaruratan, namun siaga mempersiapkan evakuasi untuk menghadapi kemungkinan terburuk dari kondisi tersebut.

“Jadi bukan pada level evakuasi, bukan sama sekali, tapi memberikan informasi ke semua pihak baik pengelola pelayaran, pengelola hotel ada pemerintah daerah, kepada masyarakat bahwa mulai siap siaga,” ujar Dwikorita.

“Artinya misalnya sudah siapkan dan evakuasi, siapkan tempat evakuasi dicek, karena kalau lama nggak dipakai terakhir 2018, rambunya mungkin sudah pada hilang,” sambungnya.

Baca Juga :  LSM KPK RI Lampung Resmi Lantik Pengurus DPC Pesawaran

Di sisi lain, masyarakat sulit melihat secara visual adanya gelombang tinggi yang mendekati pantai pada malam hari akibat aktivitas GAK.

Atas hal itu, Dwikorita mengakui pemantauan berbagai kemungkinan dari arah laut tidak dapat dilakukan lantaran tidak terlihat jelas pada malam hari.

“BMKG bersama PVMBG dan Badan Geologi akan terus memonitor perkembangan Gunung Anak Krakatau dan muka air di Selat Sunda. Ini bagian dari upaya antisipasi potensi tsunami akibat erupsi Gunung Anak Krakatau,” tuturnya.

Diketahui, tsunami pernah terjadi akibat longsoran letusan GAK pada 2018 lalu. (*)

Red

Berita Terkait

Terima Gratifikasi Rp20,7 Miliar, Mantan Kakanwil Pajak Ditahan KPK
Korban Gempa NTT Bertambah Jadi 71 Orang, Puluhan Ribu Warga Mengungsi
Lampura Dapat Tambahan TKD Rp96,9 Miliar, Fiskal Daerah Makin Longgar
BPBD Tubaba Salurkan Bantuan Air Bersih ke Warga dan Sekolah Terdampak Kekeringan
Pemkab Tubaba Genjot PAD, Potensi Pajak dan Aset Daerah Mulai Dipetakan
Mantan Pelatih Pelatnas Panjat Tebing Jadi Tersangka Dugaan Kekerasan Seksual
Budiyono Resmi Daftar Calon Rektor Unila 2027–2031
Hari Kelima Pascabencana NTT, Pemerintah Kembali Kirim 65 Ton Logistik
Berita ini 146 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Rabu, 19 Agustus 2026 - 22:25 WIB

Terima Gratifikasi Rp20,7 Miliar, Mantan Kakanwil Pajak Ditahan KPK

Rabu, 19 Agustus 2026 - 20:12 WIB

Korban Gempa NTT Bertambah Jadi 71 Orang, Puluhan Ribu Warga Mengungsi

Rabu, 19 Agustus 2026 - 19:38 WIB

Lampura Dapat Tambahan TKD Rp96,9 Miliar, Fiskal Daerah Makin Longgar

Rabu, 19 Agustus 2026 - 18:51 WIB

BPBD Tubaba Salurkan Bantuan Air Bersih ke Warga dan Sekolah Terdampak Kekeringan

Rabu, 19 Agustus 2026 - 18:20 WIB

Pemkab Tubaba Genjot PAD, Potensi Pajak dan Aset Daerah Mulai Dipetakan

Berita Terbaru