Publik tercengang.
Saya pun juga. Bahkan sampai geleng-geleng kepala.
Penyebabnya karena peristiwa itu. Yang di Kota Blitar, Jawa Timur itu. Yang Rumah Dinas Wali Kotanya disatroni perampok itu.
Itulah yang membuat kepala saya geleng-geleng tadi pagi (12/12/2022). Ketika mengetahui peristiwa tersebut.
Jujur, saya salut dengan nyali kawanan rampok itu. Alangkah hebatnya, ups, nekatnya mereka, menjadikan rumah dinas wali kota sebagai sasaran rampoknya.
Saya yakin, para perampok itu tidak ujug-ujug mesnjadikan rumah dinas wali kota sebagai sasaran tindak kriminalitas mereka. Pasti sebelumnya mereka sudah mempelajari kondisi rumah. Termasuk bagaimana penjagaannya. Yang menurut saya sangat bobrok keamanannya.
Bagaimana tidak, masak selevel rumah dinas wali kota hanya dijaga tiga anggota Satpol PP. Dan di rumah seluas dan sebesar itu, di malam terjadinya perampokan, hanya dihuni lima orang. Selain tiga Satpol PP tadi, juga ada Wali Kota Blitar Santoso berikut istrinya.
Saya coba membandingkan dengan rumah-rumah dinas kepala daerah di Lampung. Yang hampir semuanya pernah saya sambangi. Penjagaannya cukup ketat. Dan rata-rata, penghuninya paling sedikit 10 orang.
Makanya banyak pertanyaan dalam hati saya sejak tadi pagi: apa iya, di rumah dinas Wali Kota Blitar itu hanya dihuni lima orang?
Apakah Wali Kota Blitar dan istrinya tidak menggunakan ajudan?
Ke mana para asisten rumah tangga rumah dinas tersebut? Apa memang tidak ada? Rasanya tidak mungkin. Lihat saja rumah dinas tersebut, cukup besar. Juga cukup luas.
Pastinya, sistem keamanan dan penjagaan rumah dinas Wali Kota Blitar itu menjadi tanda tanya.
Sebab, berbeda sekali dengan sistem keamanan dan penjagaan di rumah-rumah dinas seorang kepala daerah.
Padahal setahu saya, rumah dinas kepala daerah itu masuk dalam objek vital. Tidak sembarang orang boleh melangkahkan kaki di sana.
Sehingga, keamanan rumah dinas seorang kepala daerah itu pasti berlapis dan luas. Penjagaannya luar dan dalam. Penjaganya juga tentu dilengkapi properti kerja, alat-alat proteksi, hingga HT mobile untuk berkomunikasi.
Pastinya, penjagaan keamanan di rumah dinas Wali Kota Blitar tersebut harus dievaluasi. Termasuk kinerja penanggung jawab keamanan. Juga kebutuhan rumah dinas itu. Mulai dari Kepala Bagian Rumah Tangga Rumah Dinas tersebut, hingga Kasatpol PP. Pun para petugas protokol wali kota.
Tentunya saya berharap perampok rumah dinas Wali Kota Blitar itu segera tertangkap. Sehingga rasa penasaran saya terobati, mengapa mereka memiliki nyali sebesar itu, merampok rumah dinas seorang wali kota?
Atau jangan-jangan, kawanan perampok itu Robin Hood? (Wirahadikusumah)









