Mana yang lebih baik: orang keuangan yang ahli keuangan atau yang punya sikap keuangan?
Yang terbaik adalah: yang ahli keuangan sekaligus punya sikap keuangan.
Lantas, jika dihadapkan hanya pada satu pilihan antara yang ahli keuangan dan yang punya sikap keuangan, pasti Anda sudah tahu lebih baik memilih yang mana.
Itulah salah satu pesan Abah Dahlan Iskan (DIS). Dalam artikelnya yang ditulis beberapa tahun lalu, Yang saya ingat hingga sekarang. Terkait manajemen keuangan.
Tentu jika dihadapkan hanya satu pilihan, sesuai pertanyaan di atas, saya memilih yang punya sikap keuangan. Saya yakin Abah DIS juga pilihannya sama.
Terlebih dalam artikelnya itu, ia juga sempat menjelaskan: orang keuangan yang ahli keuangan, belum tentu punya watak keuangan. Sebaliknya, belum tentu yang punya sikap keuangan, adalah ahli keuangan.
Pesan tersebut tentu saya terapkan. Dalam mengelola PT Rilis Multimedia Indonesia. Perusahaan yang menaungi Rilis.id Group. Yang saya diamanahkan menjadi Direktur Utamanya.
Saya tekankan kepada orang keuangan di perusahaan, saya butuh orang keuangan yang punya sikap keuangan. Yang berani menolak perintah atasan, ketika memerintahkan pengeluaran keuangan yang tidak jelas.
Yang memiliki kegelisahan, ketika kas setara kas di perusahaan rendah. Yang juga punya kerisauan tinggi, ketika piutang perusahaan membengkak.
Yang piutang itu tentunya akan tercatat sebagai pendapatan. Sementara belum tentu tertagih. Sehingga membahayakan keuangan perusahaan. Karena piutang akhirnya menjadi laba. Yang bakal terkena pajak. Namun ternyata, piutang itu tidak masuk menjadi kas setara kas.
Karenanya, kepada orang keuangan di perusahaan, saya tegaskan mereka harus memiliki sikap keuangan.
Saya katakan kepada mereka, jika hanya mencari ahli keuangan, yang kerjanya hanya mencatat atau membuat laporan keuangan, saya tinggal merekrut lulusan SMK akuntasi saja. Yang tentu mereka di bangku sekolah mendapatkan ilmu tersebut.
Beban gaji yang harus dibayar perusahaan untuk lulusan SMK akuntansi tentu lebih rendah daripada menggaji lulusan S-1 akuntansi. Lebih-lebih S-2 atau S-3.
Intinya, saat ini sangat banyak orang keuangan yang ahli keuangan. Tapi, belum tentu banyak, jumlah orang keuangan yang ahli keuangan, sekaligus memiliki sikap keuangan.
(Wirahadikusumah)









