Piramida Terbalik

- Jurnalis

Selasa, 27 Juni 2023 - 14:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Wirahadikusumah

Oleh: Wirahadikusumah

Pertanyaan ini saya tujukan kepada kawan seprofesi saya: wartawan.

Apakah saat menulis berita, Anda massih memegang teguh prinsip piramida terbalik?

Jika iya, coba simak saran Abah Dahlan Iskan (DIS) ini. Yang disampaikannya kepada saya, juga 17 peserta pelatihan. Pada Desember 2014 di Graha Pena Jakarta.

Kala itu, ia mengawali sarannya kepada kami terkait prinsip 5W+1H dalam berita. Yang memang harus ada dalam penulisan berita. Tapi, saran dia, jangan seluruhnya dibebankan kepada lead.

”Nanti, binatang bernama lead ini, terlalu berat mengemban 5W+1H,” ujarnya.

Sebaiknya, beban 5W+1H itu dibagi. Leadnya ke bagian berapa, bawahnya dapat berapa. Dan tidak usah ditetapkan. Beban yang diberikan kepada lead itu misalnya 2, jangan dipaksakan harus apanya (when atau where), tergantung pada urgensi di hari itu.

Ia kemudian melanjutkan penjelasan tentang menulis berita dengan prinsip piramida terbalik. Yakni, yang penting di atas, yang terbawah semakin tidak penting.

Menurut Abah DIS, menulis berita dengan prinsip piramida terbalik benar-benar sangat kuno. Karena, saat teori itu diterapkan, nenek Anda belum lahir.

Kala itu, berita masih diketik di mesin tik. Di edit di kertas. Dikirim ke percetakan. Di sana diset dalam bentuk kotak (ada hurufnya), kotaknya terbuat dari timah.

Petugas itu misalnya mau ambil huruf ‘K’, dia ambil kotak dengan huruf ‘K’. Lalu ambil huruf lainnya secara manual dan satu persatu. Sehingga ada wadahnya sehingga terbentuk kolom. Ini tidak ada hubungannya dengan redaksi lagi, dan sudah masuk teknis percetakan.

Pada saat itu, urusan potong memotong tidak di redaksi lagi. Tapi di percetakan. Nanti setelah dicetak, huruf-huruf yang sudah disusun ini, harus dikembalikan ke kotak itu lagi. Sebelum dikembalikan, ketika masih di-layout, disikat dulu dengan bensin, agar bersih dari tinta.

”Menyedihkan kalau menyusun timah tadi, kalau sudah diisi tinta dan kesenggol temannya. Bubar semua!” ceritanya.

Lalu generasi berikutnya, tidak lagi menyusun satu huruf, tapi menyusun satu baris. Generasi berikutnya lagi, menggunakan kertas. Motongnya masih bawah. Ketika itulah, kalau tempatnya tak cukup, dibuang.

”Sekarang, kalau tempatnya tidak cukup, kan tinggal satu klik. Delete!” ucapnya.

Di zaman kuno itulah, teori jurnalistik dilahirkan. Termasuk menulis berita menggunakan prinsip piramida terbalik.

Karenanya, saat itu, ia menekankan kepada kami, agar ketika menulis berita, langsung bergaya modern.

Ia mengajak mendoktrinkan, beda straightnews dan features. Jika straightnews, yang paling penting di depan. Kalau features, yang paling menarik di depan.

”Gaya modern: yang menarik dan penting harus di depan!” pungkasnya.

(Wirahadikusumah)

Berita Terkait

Tol Inflasi
Sikap Keuangan
Bukan Gila
Galau Caleg
Kecolongan Lampura
Rampok Nekat
Strategi PDIP
Ikhlas Ciki
Berita ini 235 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 11 Juli 2023 - 09:23 WIB

Tol Inflasi

Selasa, 27 Juni 2023 - 14:43 WIB

Piramida Terbalik

Selasa, 6 Juni 2023 - 09:07 WIB

Sikap Keuangan

Senin, 5 Juni 2023 - 09:19 WIB

Bukan Gila

Kamis, 6 April 2023 - 12:56 WIB

Galau Caleg

Berita Terbaru