LAMPUNGCORNER.COM, Mesuji — Harga komoditas pangan berupa beras, di Kabupaten Mesuji, hingga Selasa (24/10/2023) masih tetap tinggi.
Di Pasar Simpangpematang, pasar terbesar di Kabupaten Mesuji, harga beras medium masih terpantau Rp13.400/kg. Sedangkan beras premium juga belum bergeser dari Rp14.500-15.000/kg, bergantung merk jenis beras premium.
Menurut, Andi (35), pedagang beras di pasar tersebut, beras yang sebagian besar berasal dari Lampung Timur dan Metro itu masih belum menunjukkan penurunan harga.
“Kalau sampai hari ini, harga belum ada tanda penurunan, tapi stok aman. Kita masih bisa memperoleh beras tiap kali pengiriman. Paling tertunda sehari atau dua hari,” katanya ditemui di tokonya.
Ia juga mengungkapkan stok beras juga datang dari Belitang, Sumatera Selatan. Namun harga lebih tinggi dan kualitas beras hampir sama dengan beras lokal Mesuji.
Namun, kata dia lagi, kondisi stok aman tersebut tidak dapat dijamin hingga Desember 2023 mendatang. Karena yang dijual saat ini adalah stok panen terakhir sebelum musim kemarau yang terjadi sejak Agustus lalu.
Ia memperkirakan hingga saat ini tidak ada petani yang langsung menanam padi usai panen di Bulan September lalu. Kalau melihat kondisi itu, kata Andi, ada kemungkinan beras akan kekurangan stok.
“Entah kalau nanti dibanjiri beras impor, karena kalau beras lokal kayaknya tidak bisa mencukupi kebutuhan kita sendiri,” ungkapnya.
Hal itu dibenarkan Bambang (40), petani padi di Kecamatan Mesuji Timur. Ia mengatakan saat ini semua petani belum ada yang melakukan pengolahan lahan untuk persiapan penanaman kembali padi.
Hal itu karena musim kemarau yang melanda Kabupaten Mesuji sejak Agustus lalu belum bisa diprediksi akan segera berakhir.
“Kami para petani di wilayah Kecamatan Mesuji Timur dan Rawajitu Utara, berharap kemarau segera berakhir. Jadi sekarang menunggu turun hujan, baru bisa bergerak. Kalau belum ada tanda-tanda ya kita terus menunggu sampai ada hujan. Karena padi bergantung dengan air,” terangnya.
Jika mengandalkan aliran air dari sungai dan kanal saat ini tidak bisa dimanfaatkan petani. Karena air yang ada di kanal-kanal di musim kemarau panjang seperti ini membuat air menjadi asin.
“Soalnya waktu air pasang, air dari muara yang berasal dari laut itu masuk kesini, jadi payau, tidak bisa untuk tanam padi,” katanya.
Mengenai kebutuhan pupuk dan bibit, Bambang mengaku sudah ada stok yang bisa diperoleh dengan menebus ke toko yang ditunjuk karena ia dan para petani di Kecamatan Mesuji Timur sudah tergabung dalam kelompok tani yang terdaftar untuk memperoleh pupuk bersubsidi dari pemerintah. (*)
Red















