Minum Bir Bisa Tingkatkan Produksi ASI, Mitos atau Fakta?

- Jurnalis

Jumat, 11 Februari 2022 - 21:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi ibu menyusui minum bir. Foto: naka-stockphoto/Shutterstock

Ilustrasi ibu menyusui minum bir. Foto: naka-stockphoto/Shutterstock

LAMPUNGCORNER.COM, Banyak ibu menyusui yang khawatir saat produksi ASI-nya berkurang. Ya Moms, perasaan itu wajar dirasakan, karena ASI memang nutrisi yang sangat penting bagi bayi, terutama di 6 bulan pertama kehidupannya.

Saat ASI seret, ibu menyusui biasanya akan meningkatkan kembali produksi ASI dengan beragam cara. Salah satunya dengan mengonsumsi ASI booster. Lalu, pernahkah Anda mendengar bahwa bir dapat jadi ASI booster?

Ya Moms, dikutip dari Today’s Parent, bir ternyata pernah diresepkan untuk ibu menyusui di tahun 1960-an. Tapi, benarkah bir bisa meningkatkan produksi ASI? Apakah ibu menyusui juga boleh minum bir? Mengingat bir merupakan minuman beralkohol.

Mitos atau Fakta, Minum Bir Bisa Tingkatkan Produksi ASI

Moms, ibu menyusui tidak boleh minum bir karena alkohol dapat menghambat produksi ASI. Apalagi alkohol juga dapat masuk ke dalam ASI di tingkat yang sama seperti dalam darah, dan dapat terus meningkat selama 90 menit setelah minum.

Baca Juga :  Makan Satu Alpukat Sehari, Benarkah Baik untuk Jantung? Ini Temuan Terbarunya

Walaupun hanya minum sedikit, bayi Anda yang masih kecil, tetap akan merasakan sedikit alkohol dan hal itu bisa berbahaya bagi kesehatannya. American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan agar ibu menyusui menghindari alkohol, dengan sedikit pengecualian jika minum sesekali dengan jumlah yang sangat sedikit. Jadi, minum bir untuk meningkatkan produksi ASI adalah mitos ya, Moms.

Sehingga bila produksi ASI sedang seret, lebih baik fokus pada konsumsi makanan bergizi seimbang dan menyusui secara teratur. Coba juga lakukan skin to skin contact dengan bayi, sebelum dan selama menyusui untuk merangsang hormon oksitosin, yaitu hormon yang membuat ASI mengalir. Skin to skin contact ini berarti meletakkan bayi di perut atau dada, dengan kulit saling bersentuhan, Moms.

Baca Juga :  Tak Terlihat tapi Masuk ke Tubuh, Mikroplastik Kini Ditemukan di Plasenta

Menurut Ahli Laktasi, Kelly Bonyata, BS, IBCLC, dalam tulisannya di Kellymom, jika ASI seret, maka tandanya ibu perlu istirahat yang cukup. Jadi, cobalah untuk ikut istirahat saat bayi tidur, kemudian rileks dan usahakan minum lebih banyak air putih.

Jika ASI masih seret padahal Anda sudah melakukan banyak cara, jangan ragu untuk datang ke konsultan atau konselor menyusui. Mereka akan menilai apakah suplai ASI Anda benar-benar seret atau tidak. Kemudian, akan mengajarkan cara pelekatan dan posisi menyusui yang tepat. Sebab, pelekatan dan posisi yang salah bisa membuat bayi tidak bisa menyusu dengan benar dan ASI pun jadi seret, Moms.

 

Red

Berita Terkait

Menuju Akreditasi Paripurna, RSUD KH Ahmad Hanafiah Perkuat Mutu dan Keselamatan Pasien
Makan Satu Alpukat Sehari, Benarkah Baik untuk Jantung? Ini Temuan Terbarunya
Tak Terlihat tapi Masuk ke Tubuh, Mikroplastik Kini Ditemukan di Plasenta
Studi Ungkap Bahaya Makanan Ultra Proses bagi Kesehatan
Studi Ungkap, Durasi Tidur Panjang Belum Tentu Redam Hormon Stres
Penelitian Ungkap Jahe Berpotensi Bantu Kendalikan Diabetes Tipe 2
JKN Kian Kokoh, Layani 282,7 Juta Peserta dan Jadi Fondasi SDM Indonesia Sehat
Lobi Pemkab Lampura Berbuah Manis, RSUD Ryacudu Dapat Alkes Rp42 Miliar dan Dana Pengembangan Rp49 Miliar
Berita ini 152 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 28 Juli 2026 - 12:39 WIB

Menuju Akreditasi Paripurna, RSUD KH Ahmad Hanafiah Perkuat Mutu dan Keselamatan Pasien

Senin, 27 Juli 2026 - 09:51 WIB

Makan Satu Alpukat Sehari, Benarkah Baik untuk Jantung? Ini Temuan Terbarunya

Sabtu, 18 Juli 2026 - 15:39 WIB

Tak Terlihat tapi Masuk ke Tubuh, Mikroplastik Kini Ditemukan di Plasenta

Sabtu, 18 Juli 2026 - 15:32 WIB

Studi Ungkap Bahaya Makanan Ultra Proses bagi Kesehatan

Rabu, 15 Juli 2026 - 15:50 WIB

Studi Ungkap, Durasi Tidur Panjang Belum Tentu Redam Hormon Stres

Berita Terbaru