Naik Tekstur MPASI, Kenapa Penting untuk Bayi?

- Jurnalis

Minggu, 20 Februari 2022 - 11:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

bayi makan Foto: Shutterstock

bayi makan Foto: Shutterstock

LAMPUNGCORNER.COM, Memasuki usia 6 bulan, bayi perlu mendapat makanan pendamping ASI atau MPASI. Ya Moms, saat memberikan MPASI pastikan bahwa pemberiannya sudah tepat, seperti porsi hingga teksturnya.

Seiring dengan bertambahnya usia, tekstur MPASI bayi juga perlu ditingkatkan, Moms. Berikut adalah penjelasan kapan sebaiknya bayi naik tekstur MPASI, seperti dikutip dari laman Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI):

  • Bayi 6 bulan: Mulai MPASI dengan makanan yang dihaluskan sehingga menjadi bubur kental (puree).
  • Bayi 6 bulan – 9 bulan: Berikan MPASI dengan bubur kental (puree) atau makanan yang dilumatkan hingga halus (mashed).
  • Bayi 9 bulan – 12 bulan: Berikan makanan yang dicincang halus (minced), dicincang kasar (chopped), atau makanan yang dapat dipegang (finger food).
  • Bayi 12 bulan – 24 bulan: Berikan makanan keluarga yang dihaluskan atau dicincang seperlunya.
Baca Juga :  Studi Ungkap Bahaya Makanan Ultra Proses bagi Kesehatan

Lalu, kenapa sih naik tekstur MPASI ini sangat penting untuk bayi?

Penjelasan soal Alasan Naik Tekstur MPASI Penting untuk Bayi

Menurut Dokter Spesialis Anak, dr. Wiyarni Pambudi, SpA, IBCLC, naik tekstur MPASI pada bayi merupakan hal yang sangat penting. Sebab, dapat memberikan beberapa manfaat, seperti membantu perkembangan fungsi oromotor, yakni rongga mulut, lidah, hingga rahang.

“Kalau ditunda-tunda, bisa memicu otot-otot (oromotor) tersebut kurang berkembang,” jelas dr. Wiyarni saat dihubungi kumparanMOM pada Rabu (16/2).

Selain itu, naik tekstur MPASI juga dapat meningkatkan keterampilan bicara si kecil. Bayi dengan masalah makan atau mengunyah cenderung mengalami gangguan perkembangan bahasa lisan, seperti late talkers, problem artikulasi, dan kemampuan diskursif lemah.

Naik tekstur MPASI juga harus tepat sesuai dengan usia dan perkembangan bayi. Misalnya, bayi 6-8 bulan sudah bisa menelan tapi masih belajar mengunyah, jika disuapi menu cincang, maka hanya ditelan tanpa dikunyah.

Baca Juga :  Studi Ungkap, Durasi Tidur Panjang Belum Tentu Redam Hormon Stres

“Itu bisa memperberat kerja saluran cerna, bahkan bisa memicu ‘tragedi’ usus tersumbat. Bayi yang diberi menu dengan tekstur tidak sesuai usia juga cenderung makan dengan porsi lebih sedikit,” jelas dokter yang praktik di BJ Medical Center, Jakarta Barat, ini.

Jadi akibatnya, pertumbuhan berat badan akan lambat, berisiko gagal tumbuh dengan segala konsekuensinya, bahkan bisa sampai stunting. Sehingga perlu diingat, selera makan bayi saat ini akan membentuk preferensi makanan saat dewasa. Jadi, pahami dengan benar, kapan si kecil naik tekstur, Moms. Ingat, jangan terlalu cepat dan jangan terlalu lambat.

 

Red

Berita Terkait

Menuju Akreditasi Paripurna, RSUD KH Ahmad Hanafiah Perkuat Mutu dan Keselamatan Pasien
Makan Satu Alpukat Sehari, Benarkah Baik untuk Jantung? Ini Temuan Terbarunya
Tak Terlihat tapi Masuk ke Tubuh, Mikroplastik Kini Ditemukan di Plasenta
Studi Ungkap Bahaya Makanan Ultra Proses bagi Kesehatan
Studi Ungkap, Durasi Tidur Panjang Belum Tentu Redam Hormon Stres
Penelitian Ungkap Jahe Berpotensi Bantu Kendalikan Diabetes Tipe 2
JKN Kian Kokoh, Layani 282,7 Juta Peserta dan Jadi Fondasi SDM Indonesia Sehat
Lobi Pemkab Lampura Berbuah Manis, RSUD Ryacudu Dapat Alkes Rp42 Miliar dan Dana Pengembangan Rp49 Miliar
Berita ini 239 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 28 Juli 2026 - 12:39 WIB

Menuju Akreditasi Paripurna, RSUD KH Ahmad Hanafiah Perkuat Mutu dan Keselamatan Pasien

Senin, 27 Juli 2026 - 09:51 WIB

Makan Satu Alpukat Sehari, Benarkah Baik untuk Jantung? Ini Temuan Terbarunya

Sabtu, 18 Juli 2026 - 15:39 WIB

Tak Terlihat tapi Masuk ke Tubuh, Mikroplastik Kini Ditemukan di Plasenta

Sabtu, 18 Juli 2026 - 15:32 WIB

Studi Ungkap Bahaya Makanan Ultra Proses bagi Kesehatan

Rabu, 15 Juli 2026 - 15:50 WIB

Studi Ungkap, Durasi Tidur Panjang Belum Tentu Redam Hormon Stres

Berita Terbaru