Petuah sang Dirut

- Jurnalis

Senin, 14 Februari 2022 - 08:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Wirahadikusumah

Oleh: Wirahadikusumah

Jumat pagi (11/2/2022) saya terlibat diskusi. Singkat. Namun berisi.

Peserta diskusinya hanya dua orang: saya dan teman diskusi saya. Diskusinya juga melalui pesan WhatsApp.

Yang kami bahas tentang pers. Terkait kondisinya. Juga apa yang harus dilakukan perusahaan pers. Agar bisa bertahan di era disrupsi digital saat ini.

Namun, pada diskusi itu, saya memilih lebih banyak mengamini. Terkait apa yang disampaikan teman diskusi saya itu.

Terhitung, hanya empat kali saya menimpali pendapat teman diskusi saya tersebut. Isinya pun hanya menyepakati apa yang disampaikannya.

Tentu ada alasan mengapa saya memilih bersikap seperti itu.

Itu karena memang saya ingin mendapatkan petuah darinya. Juga pandangannya. Terkait kondisi pers saat ini.

Pun strateginya. Tentang apa yang harus dilakukan jurnalis. Dan perusahaan pers. Dalam melawan gempuran digital saat ini.

Sehingga, dalam diskusi itu, sejujurnya saya ingin ”mencuri” ilmu darinya. Terlebih, tipe teman diskusi saya ini tergolong ”irit” bicara. Itu saya ketahui setelah beberapa kali terlibat percakapan melalui WhatsApp dengannya.

Namun Alhamdulillah. Pagi itu saya seperti ketiban berkah. Tak seperti biasanya, teman diskusi saya itu cukup panjang menyampaikan pemikirannya. Sehingga saya merasa, hari itu menjadi Jumat berkah bagi saya. Karena mendapatkan petuah darinya.

Apalagi, teman diskusi saya ini ilmu dan pengalamannya bukan tergolong “kaleng-kaleng”. Selain jurnalis senior yang pernah berkiprah di Lampung, ia juga beberapa kali meraih penghargaan. Di antaranya dari Jawa Pos (JP) Group. Pada 2012. Sebagai CEO terbaik JP Group.

Penghargaan itu diberikan sebagai ganjaran atas kesuksesannya sebagai Direktur Utama (Dirut) Radar Cirebon Group.

Ada quote dari teman diskusi saya ini yang bisa dijadikan motivasi diri.

Begini bunyi quote-nya: “Selalu ada pintu belakang untuk menangkap peluang bisnis. Kalau sungguh-sungguh pasti maju,”.

Lalu siapakah teman diskusi saya itu?

Namanya Yanto S. Utomo. Saya biasa memanggilnya Pak Yanto. Jabatannya kini Dirut PT Wahana Semesta Merdeka (WSM).

PT WSM adalah holding beberapa perusahaan di Indonesia. Saya tidak tahu, berapa total perusahaan yang tergabung dalam holding ini.

Namun, jika merujuk artikel Abah Dahlan Iskan berjudul ”Mas Parno” yang terbit di Disway.id pada 11 Desember 2020, ada sekitar 50 perusahaan yang tergabung. Di holding PT WSM.

Puluhan perusahaan itu terdiri dari koran, radio, televisi, media online, percetakan, pabrik pelet, dan tambak udang.

Perusahaan-perusahaan tersebut tersebar di Lampung, Palembang, Jambi, Bengkulu, Cirebon, Tasikmalaya, Bandung, Tegal, Banyumas dan sekitarnya.

Lantas, petuah apa yang disampaikan Pak Yanto?

Ia mengatakan, saat ini wartawan harus siap mental. Terlebih jurnalis tulis. Yang katanya menempati kasta tertinggi.

Siap mental yang dimaksudnya adalah terkait kehadiran konten kreator. Di era saat ini. Menurutnya, kehadiran mereka harus diterima dengan lapang dada.

Ia menilai, meski secara terminologi konten kreator bukan wartawan, tapi produknya bisa menggusur “keangkeran” wartawan.

Tengok saja YouTubers, selebgram, dan juga para penggiat programmatic. Sekarang, karyanya lebih banyak dinikmati masyarakat.

Bahkan, bukan hanya karyanya, bisa jadi, jumlah konten kreator saat ini sudah mengalahkan jurnalis.

Belum lagi soal pendapatan. Atau bahasa halusnya kesejahteraan. Pendapatan mereka mungkin sudah bisa menyandingkan diri dengan legislator.

Karena itu, Pak Yanto menyarankan, kehadiran konten kreator sebaiknya diterima dengan lapang dada.

Bahkan, menurutnya, jurnalis harus segera meleburkan diri ke konten kreator itu. Yang nanti, ketika ada yang menyebut konten kreator, maka meliputi: jurnalis, YouTubers, selebgram, dan pengonten programmatic.

Pak Yanto memandang, ada nilai positif jika jurnalis melebur dalam konten kreator.

Pertama, karyanya bisa dinikmati banyak masyarakat.

Kedua, regenerasi para pembuat konten akan berkesinambungan. Karena, anak-anak millenial akan tertarik menjadi penggiat konten kreator. Jika hanya jurnalis, anak millenial minim ketertarikannya.

Ketiga, para jurnalis juga bisa mewarnai karya konten kreator lebih bernilai. Bukan hanya sekadar pemburu konten!

Keempat, kesejahteraan juga akan mengikuti para jurnalis. Seperti yang sekarang dinikmati pengonten kreator.

Kelima adalah yang paling penting. Menurutnya, transformasi media akan terjadi. Tidak tergerus zaman. Sebab, jurnalis terlibat langsung dalam proses perubahan ke arah multi-platform media. Tidak hanya jadi penonton!

Karena itulah, ia menyarankan dunia pers menerima kehadiran konten kreator. Tidak memusuhinya hanya karena dikotomi kata-kata. Walau intinya sama: memproduksi berita.

Pada diskusi itu juga, Pak Yanto sempat membeberkan tentang pengalamannya. Saat perusahaannya membuka lowongan pekerjaan. Untuk posisi wartawan.

Saat itu, menurutnya tidak ada yang melamar. Namun, ketika istilahnya diganti menjadi konten kreator, yang mendaftar sangat banyak.

Karenanya, menurut Pak Yanto, nantinya di kantor redaksi, baik nyata atau virtual, akan bergabung banyak unsur. Ada wartawan, penggiat medsos, dan pemain programmatic.

Terlebih, traficmatic saat ini sudah begitu menggusur sirkulasi media mainstream.

“Ini pemicu kesadaran, bahwa kita harus berubah!” sarannya.

Saya tentu sepakat apa yang dikatakan Pak Yanto. Itulah fakta yang terjadi saat ini. Media massa memang harus berubah. Agar tidak punah.

Alhamdulillah, sudah banyak media massa kini yang mempekerjakan konten kreator.

Termasuk media massa tempat saya bekerja saat ini: Rilis.id Group. Bahkan, saya berencana menambah konten kreator. Juga meng-update skill jurnalisnya. Agar bisa bekerja laiknya konten kreator.

Pastinya, menurut saya, inti yang disampaikan Pak Yanto itu adalah soal adaptasi. Bagaimana jurnalis dan perusahaan pers harus cepat bertransformasi. Tentu juga harus kaya inovasi. Agar bisa terus melaju di derasnya arus digitalisasi.

Maka, sudah benarlah kata pencetus teori evolusi Charles Darwin itu: bukan yang terkuat yang bertahan, melainkan mereka yang paling adaptif menghadapi perubahan.

(Wirahadikusumah)

Berita Terkait

Tol Inflasi
Piramida Terbalik
Sikap Keuangan
Bukan Gila
Galau Caleg
Kecolongan Lampura
Rampok Nekat
Strategi PDIP
Berita ini 175 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 11 Juli 2023 - 09:23 WIB

Tol Inflasi

Selasa, 27 Juni 2023 - 14:43 WIB

Piramida Terbalik

Selasa, 6 Juni 2023 - 09:07 WIB

Sikap Keuangan

Senin, 5 Juni 2023 - 09:19 WIB

Bukan Gila

Kamis, 6 April 2023 - 12:56 WIB

Galau Caleg

Berita Terbaru