Oleh: Wirahadikusumah
Saya memulai menulis naskah ini pada Rabu (9/6/2021). Tepat pukul 23.00 WIB.
Artinya, naskah ini saya tulis satu jam sebelum usia saya bertambah satu tahun.
Atau hakekatnya: jatah waktu saya di dunia ini semakin berkurang. Semakin dekat jarak dengan kematian.
Ya. Saya lahir pada Jumat. Tanggal 10 Juni 1983. Karenanya, saat Anda membaca tulisan ini, mungkin usia saya sudah genap 38 tahun.
Mungkin?
Ya. Mungkin!
Memangnya siapa yang tahu batas usia kita di dunia?
Bisa jadi, sebelum pukul 00.00 WIB malam ini, Allah SWT mencabut nyawa saya.
Karenanya, setelah selesai menulis naskah ini, saya putuskan berkontemplasi. Merenung. Bermuhasabah. Mengintrospeksi perbuatan dan kesalahan yang saya lakukan sebelumnya. Yang bisa jadi, saya melakukannya itu dengan sengaja.
Sebenarnya, kegiatan seperti itu sudah beberapa tahun saya lakukan. Pada dini hari. Saat usia saya bertambah.
Hasil dari perenungan pun kesimpulannya biasanya sama. Bahwa, tak ada perbuatan yang lebih baik di saat umur bertambah, selain memohon ampun dan berdoa kepada-Nya. Sehingga, kita tak lupa esensi dari bertambahnya usia.
Dan esoknya, saya biasanya akan mencium punggung tangan ibu saya. Juga Ayah saya. Untuk memohon maaf kepada keduanya.
Baru setelah itu, saya menerima uluran tangan istri dan kedua anak saya. Untuk mencium punggung tangan saya. Dan, biasanya juga dalam hati, saya memohon maaf kepada mereka.
Lalu apakah dilanjutkan perayaan?
Bisa iya. Bisa juga tidak. Bergantung kondisi keuangan saya.
Dan jika pun ada perayaan, bukan dilakukan dengan menggelar pesta. Biasanya hanya makan siang atau malam di rumah makan. Bersama ayah dan ibu saya. Tentunya juga istri dan kedua anak saya. Juga kakak saya dan keluarganya.
Sebenarnya, tujuan makan malam di rumah makan itu juga bukan untuk perayaan. Hanya sekadar untuk menyenangkan hati anak saya saja.
Pastinya, saya sepakat cuitan Fiersa Besari di twitternya itu: semakin kita dewasa, akan semakin kita sadari, bahwa ulang tahun bukan soal perayaan. Ulang tahun adalah kontemplasi tentang sudah sebaik apa kita berusaha? Seberapa banyak lagi waktu yang tersisa? (Wirahadikusumah)









