Home / Wira Corner

Senin, 28 Juni 2021 - 17:21 WIB

Percaya Jokowi?

Oleh: Wirahadikusumah

Akhirnya saya putuskan merampungkan artikel ini. Penyebabnya karena teman saya itu.

Sebelum merampungkan naskah artikel ini, saya memang melakukan screenshoot tiga paragraf naskah artikel ini. Lalu menjadikannya status WhatsApp (WA). Dengan caption: lanjutin ga ya tulisan ini?

Tujuan membuat status WA itu memang untuk mengetahui respons teman-teman saya. Yang melihat status tersebut.

Hasilnya?

Tiga teman mengirimkan pesan WA. Intinya menyarankan melanjutkan artikel ini.

Lalu, satu teman juga mengirimkan pesan WA. Isinya kalimat bernada candaan seperti ini: kenapa? Takut nanti ditawarin jadi komisaris lu ya?

Saya pun membalas pesan tersebut dengan nada bercanda juga: siap-siap! lu jadi wakil komisaris, kalau gua jadi komisaris.

Selanjutnya kami pun saling berbalas pesan bernada candaan. Yang akhirnya, saya katakan kepadanya, naskah artikel ini bakal saya rampungkan.

Artikel ini memang ingin membahas wacana yang heboh lagi itu. Tentang jabatan presiden tiga periode itu.

Saat ini, wacana itu memang melanggar konstitusi. Namun, tidak nantinya jika Pasal 7 UUD 1945 amandemen ke-1 itu diamandemen lagi.

Hebohnya lagi wacana ini lantaran syukuran itu. Yang digelar komunitas Jokowi-Prabowo (Jokpro) itu. Di Mampang Prapatan, Jakarta itu. Pada Sabtu (19/6/2021) malam itu.

Kali ini, wacana itu digulirkan M. Qodari. Ia adalah penasihat Jokpro. Juga Direktur Eksekutif Indo Barometer.

Ia mengatakan, duet Jokowi-Prabowo untuk menghindari adanya polarisasi di masyarakat. Pada Pilpres 2024.

Bahkan, untuk mewujudkan niatnya itu, Qodari sampai menyatakan mundur dari Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia.

Lalu, kehebohan muncul di jagad twitter. Netizen ramai-ramai menggaungkan hastag #TangkapQodari. “Siapapun yang mengajak inkonstitusional laik ditangkap. #TangkapQodari,” kicau salah seorang netizen.

BACA JUGA  Danrem Baret Merah

“Tangkap M. Qodary !!! #TangkapQodari

  1. Telah Makar Terhadap UUD 45 Pasal 7 Tentang Masa Jabatan Presiden & Wapres; 2. Membuat Persepsi dan Penghianatan Terhadap Amanat Reformasi Indonesia; 3. Membuat kegaduhan di masa pandemi dan krisis yang sedang berlangsung! #TangkapQodari,” tulis netizen lainnya lagi.

“Nih orang berani menantang konstitusi, siapa sih yang nyuruh Om Qodari ini? #tangkapqodari,” kata netizen lainnya lagi.

Sebenarnya, wacana ini pernah dikomentari Jokowi. Ia menegaskan tak ada niat menjadi presiden tiga periode.  Bahkan, untuk membantah wacana tersebut, Jokowi sampai berkomentar dua kali.

Pertama, pada 12 Februari 2019: ada yang omong presiden dipilih tiga periode itu, ada tiga (motif) menurut saya. Satu, ingin menampar muka saya, yang kedua ingin cari muka, padahal saya sudah punya muka. Yang ketiga, ingin menjerumuskan. Itu saja.

Lalu, pada 15 Maret 2021: saya tidak ada niat, tidak ada juga berminat menjadi presiden tiga periode. Konstitusi mengamanahkan dua periode, itu yang harus kita jaga bersama. Janganlah membuat gaduh baru, kita sekarang fokus pada penanganan pandemi.

Heboh wacana presiden tiga periode kali ini juga sudah dibantah Jubir Presiden Fadjroel Rachman. Ia mengatakan, Jokowi setia terhadap amanat konstitusi.

“Mengingatkan kembali, Presiden Joko Widodo tegak lurus konstitusi UUD 1945 dan setia terhadap reformasi 1998,” kata Fadjroel, dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (19/6/2021).

Lalu, apakah saya percaya dengan komentar Jokowi itu?

Ya. Untuk saat ini saya percaya. Meskipun jujur, ada sedikit keraguan.

BACA JUGA  Dasar¬†Pemalas!

Terlebih dalam catatan saya, Jokowi pernah tak menepati ucapannya. Di antaranya saat mencalonkan diri kali pertama sebagai presiden.

Seingat saya, ia sempat menyatakan akan menyelesaikan jabatannya sebagai Gubernur DKI Jakarta. Hingga lima tahun. Sehingga tidak akan mencalonkan diri sebagai presiden. Namun nyatanya, ia malah mencalonkan diri sebagai presiden.

Kemudian, karena kengototan Qodari itu. Mengapa ia semangat sekali menduetkan Jokowi-Prabowo di Pilpres 2024?

Padahal, Jokowi sudah berkomentar tidak berniat dan berminat menjadi presiden tiga periode.

Dan, Qodari bukanlah sosok “kaleng-kaleng” di dunia politik. Ia seorang pengamat politik. Juga peneliti. Yang mendirikan lembaga survey Indo Barometer. Pada 2006.

Sekolah Qodari juga sudah mentok. Ia seorang doktor politik. Alumnus Universitas Gadjah Mada. Magisternya pun berkaitan dengan ilmu politik. Ditamatkan di Universitas Essex, Inggris. Lalu, S-1 nya di Universitas Indonesia. Di bidang psikologi sosial.

Dengan sederet pendidikannya itu, dan pengalamannya di dunia survey, saya yakin ia punya alasan kuat menggaungkan Jokowi presiden tiga periode.

Itulah yang membuat saya belum bisa percaya 100 persen. Dengan ucapan Jokowi itu. Yang tak berminat menjadi presiden tiga periode.

Pastinya, waktu yang akan menjawab kepercayaan saya itu. Apakah Jokowi bakal menepati perkataannya itu? Atau tak menepati lagi ucapannya itu?

Memang sudah banyak yang bilang, jangan percaya perkataan politisi.

Seperti yang dikatakan negarawan Perancis Charles de Gaulle: politisi tidak pernah percaya atas ucapannya sendiri. Mereka justru terkejut bila rakyat memercayainya.

Lalu, bagaimana dengan Anda, apakah percaya dengan ucapan Jokowi itu?(Wirahadikusumah)

 

Share :

26 views

Baca Juga

Wirahadikusumah

Wira Corner

Bangga Lampung
Wirahadikusumah

Wira Corner

Wakil Bupati (2)
Wirahadikusumah

Wira Corner

Legawa Ardito
Wirahadikusumah

Wira Corner

Pesan untuk Pemred
Wirahadikusumah

Wira Corner

Terserah Engkau Sajalah!
Wirahadikusumah

Wira Corner

Nyanyian Krisdayanti
Wirahadikusumah

Wira Corner

Danrem Baret Merah
Wirahadikusumah

Wira Corner

Profesi dan Pekerjaan