Home / Wira Corner

Selasa, 14 September 2021 - 09:20 WIB

Pesan untuk Pemred

Oleh: Wirahadikusumah

Sesuai janji. Saya kembali melanjutkan tulisan tentang pengalaman ketika mengikuti pelatihan jurnalistik. Bersama 17 wartawan lainnya. Dari berbagai penjuru Indonesia. Pada Desember 2014. Di lantai 11 Graha Pena Jakarta. Yang berlokasi di Jl. Raya Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Pelatihan jurnalistik itu digelar selama 10 hari. Dari pukul 07.30 sampai 17.30 WIB. Selama sepuluh hari itu, tidak ada pemateri lain. Hanya Abah Dahlan Iskan (DIS) seorang.

Dalam tulisan kali ini, saya akan menceritakan salah satu pesan dari Abah DIS. Pada pelatihan untuk level pemimpin redaksi (pemred) tersebut.

Kala itu, ia meminta kepada kami tidak boleh mengeluh. Ketika melakukan pekerjaan jurnalistik. Terlebih jika jabatannya Pemred.

Peserta pelatihan jurnalistik tersebut memang sebagian besar diikuti pemred. Hanya saya yang kala itu jabatannya di redaksi masih redaktur muda.

Jika ada yang belum tahu, mengapa saya bisa ikut pelatihan tersebut, silakan baca artikel saya berjudul: Bohongi Dahlan Iskan Demi Ikut Pelatihan.

Di artikel itu, saya ceritakan jelas, mengapa saya bisa menjadi murid Abah DIS. Pada pelatihan tersebut.

Nah, menurut Abah DIS, jika pemred mengeluh, maka anak buahnya akan jadi kacau.

Ia mengatakan, jika pemred masih mau mengeluh juga, maka pergilah ke toilet. Mengeluhlah di sana sebanyak-banyaknya.

“Ingat! Banyak orang pintar tapi tidak bisa menjadi pemimpin yang berhasil,” kata Abah DIS.

BACA JUGA  Kontemplasi

Ia menjelaskan, sosok pemred harus bisa menangkap atau menyimpulkan kualitas seorang wartawan.

Seorang pemred juga harus mengambil resiko menjadi orang yang paling bertanggung jawab. Untuk membuat medianya maju. Niatnya bisa ibadah, solidaritas wartawan, atau memajukan pers.

Karena kalau tidak, bagaimana dengan nasib wartawan. Jadi harus ada yang merasa terpanggil untuk mengurus media. Termasuk mengorbankan perasaan di depan manajemen. Atau bagian iklan.

”Jika berani mengambil tanggung jawab itu, maka Anda adalah pemred sejati!” ucapnya.

Seorang pemred juga menurutnya harus punya ekspektasi terhadap prestasi wartawan. Karenanya, simulasi kerja redaksi harus dengan ekspektasi mendapatkan berita bagus.

”Jadi, tidak ada berita sampah yang diterbitkan!” ingatnya.

Berita bagus yang terbit menurutnya harus dimulai dari range 7-9. Berita dengan nilai 6, bisa tetap naik, tapi ia menilai itu sudah sangat jelek sekali.

”Nah, berita di bawah 6, jangan naik. Itu sampah!” ingatnya lagi.

Pada pelatihan itu, Abah DIS sebelumnya memang sudah mengajarkan kami. Tentang bagaimana menilai suatu berita. Namun khusus untuk menilai suatu berita belum saya tulis. Mungkin dalam suatu kesempatan, akan saya buatkan juga artikelnya.

Pastinya, pada kesempatan itu, Abah DIS meminta pemred tidak selalu mengevaluasi wartawan berprestasi dengan uang.

BACA JUGA  Legawa Ardito

Evaluasi bisa dilakukan dengan jenjang karir. Terpenting ada penghargaan. Karena, iklim kerja jurnalistik, harus menghargai prestasi wartawan.

Karena itu, kian besar organisasi, maka kian sistem yang berlaku. Karena kian besar organisasi, maka kian sulit merekam kejadian-kejadian khusus. Juga prestasi-prestasi khusus. Karena semuanya harus tersistem.

Tapi, kalau organisasinya kecil, maka pemred bisa mengingat.

“Lupa memberi penghargaan saja, harus diingat!” ujarnya.

Kemampuan pemred merekam prestasi anak buah, akan menghasilkan iklim kerja yang baik. Dan, sistem terbaik memang tetap yang ada insentif.

Jadi, bukan kuantitas berita yang dihasilkan, tapi kualitas. Itu untuk mendorong lahirnya berita bermutu.

“Tentu yang menghasilkan berita terbaik, harus menerima insentif,” katanya.

Lalu bagaimana jika keuangan perusahaan belum cukup untuk memberi insentif?

Menurutnya, pemred bisa melakukan manufacturing hope. Dengan meminta anak buahnya untuk bersabar. Dan menyakinkan ke depan, pasti akan ada perubahan. Akan ada harapan (hope).

“Jual keyakinan itu pada wartawan Anda!” sarannya.

Tetapi, harus diingat, jangan sampai setelah keuangan perusahaan sudah baik, malah tidak ada penghargaan apa-apa.

Maka, harus dimonitor juga secara real, bagaimana dengan kemajuan perusahaan.

”Karena, hope itu juga ada batasnya. Orang bisa puas dengan hope, tapi tidak bisa kenyang!” pungkasnya. (bersambung/Wirahadikusumah)

Share :

55 views

Baca Juga

Wira Corner

Moratorium Pinjol
Wirahadikusumah

Wira Corner

Nyanyian Krisdayanti
Wirahadikusumah

Wira Corner

Danrem Baret Merah
Wirahadikusumah

Wira Corner

Kontemplasi
Wirahadikusumah

Wira Corner

Wakil Bupati (2)
Wirahadikusumah

Wira Corner

Dasar Pemalas!
Wirahadikusumah

Wira Corner

Murka Mantan Nahkoda
Wirahadikusumah

Wira Corner

Terserah Engkau Sajalah!