Pemilihan presiden dan legislatif masih dua tahun lagi. Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI telah memutuskan dilaksanakan pada 14 Februari 2024.
Kendati masih hitungan tahun, partai-partai politik (parpol) sudah memanaskan mesinnya. Tidak terkecuali parpol di Lampung. Kasak-kusuk yang dilakukan parpol-parpol tersebut seakan menandakan tahun politik sudah dimulai.
Tengok saja geliatnya di Partai Nasdem. Juga Partai Demokrat. Pun Partai Amanat Nasional. Mulai mantan kepala daerah, eks kepala dinas, hingga mantan rektor berduyun-duyun bergabung ke tiga partai tersebut.
Tak hanya itu, banyak juga politisi yang pindah parpol. Dari partai satu ke partai lainnya.
Saya menilai wajar. Ketika ketiga partai itu kini sedang menjadi magnet para politisi untuk bergabung. Sebab, ketua di tiga parpol tersebut masih terbilang baru. Tentu mereka tengah menyusun kekuatan. Untuk berkompetisi dengan parpol lainnya. Sehingga terbuka peluang bagi siapapun bisa begabung di tiga parpol tersebut.
Sementara di pusat, parpol juga sudah memasang kuda-kuda. Demi meraup suara terbanyak di pemilu presiden dan legislatif.
Melalui tulisan ini, saya hanya ingin mengingatkan kita semua, biasanya ketika penyelenggaraan Pemilu digelar, suhu politik naik. Panas. Tentu kita harus bisa terus menjaga kondusifitas. Dengan cara kita masing-masing.
Tentu juga harus ada jaminan dari penyelenggara, agar pemilu berlangsung fair play. Agar kualitasnya terjaga dengan baik.
Sebab, dalam setiap penyelenggaraan pemilu, baik pilpres maupun pileg, indikasi negatif sering bermunculan. Seperti money politics. Pun manipulasi suara.
Indikasi negatif itu harus bisa dihapus. Sehingga, penyelenggara melalui peraturannya harus tegas. Dengan memberi sanksi sesuai aturan yang berlaku. Ketika indikasi tersebut memang ditemukan. Dalam pelaksanaan pemilu.
Pastinya, melalui tulisan ini, saya mengajak semuanya untuk menyambut baik dimulainya tahun politik ini. Kita harus ingat, pemilu digelar dengan tujuan memilih pemimpin. Yang prosesnya melibatkan masyarakat luas.
Karenanya, mari kita cermati tokoh-tokoh politik yang sudah bermunculan untuk mencalonkan diri menjadi pemimpin. Masih ada waktu dua tahun untuk mengecek track record mereka.
Jangan sampai nanti, hak memilih tidak kita gunakan. Untuk menentukan siapa pemimpin kita ke depan.
Sebab, Plato, seorang filsuf dan pakar matematika asal Yunani pernah berkata: salah satu hukuman karena menolak berpartisipasi dalam politik adalah bahwa Anda akhirnya diperintah oleh bawahan Anda.
(Wirahadikusumah)















