Terserah Engkau Sajalah!

- Jurnalis

Rabu, 28 Juli 2021 - 17:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Wirahadikusumah

Pagi itu (17/7/2021) saya sedang mengaplikasikan ilmu S-1 saya. Melakukan repotting tanaman cabai.

Jika Anda tidak tahu repotting, cari saja di Google. Tak perlu kuliah enam tahun dulu di Fakultas Pertanian Universitas Lampung seperti saya, untuk mengetahui jawabannya.

Pastinya, hampir dua pekan belakangan ini, waktu-waktu luang saya diisi dengan berkebun.

Kebetulan di samping rumah ada lahan kosong. Luasnya hampir 300 meter persegi. Sehingga bisa dimanfaatkan untuk mengaplikasikan “jurus-jurus” ilmu pertanian saya.

Saya memang sengaja melakukan hal tersebut. Tujuannya tentu mencari keringat. Agar badan tetap sehat.

Sehingga, si Corona enggan mendekat. Karena saya bau keringat. Ups… Karena imun tubuh yang kuat.

Saat sedang mengisi polybag dengan media tanam, tiba-tiba Faiq, anak sulung saya yang baru berusia 10 tahun berteriak. Dari pintu samping rumah.

“Pahhh… Abi positif, ” teriaknya.

Abi yang dimaksud Faiq itu adalah kakak ipar saya. Suami kakak saya. Yang jarak rumahnya hanya “sepelemparan batu” dari rumah saya.

Mendengar teriakan Faiq itu, saya tak menjawab. Saya terus saja mengaduk-aduk media tanam.

Saya tahu, yang dimaksud positif kata Faiq itu, kakak ipar saya terpapar Corona.

Saya pun tak kaget-kaget amat mendengarnya. Terlebih, hampir tiap hari saya mendengar orang terpapar Corona.

Mungkin karena Corona sudah familiar di telinga masyarakat Indonesia. Bahkan hingga level bocah seperti Faiq pun, kupingnya sudah akrab dengan nama virus itu.

Usai menyelesaikan repotting dan membasuh tangan dan kaki, saya pun menuju saung berukuran 4 x 3 meter. Yang memang berdiri di lahan tersebut.

Saung itu saya bangun memang untuk dijadikan tempat beristirahat. Sesekali juga sebagai tempat bekerja. Mengediting berita dari kawan-kawan saya di Rilis.id.

Bahkan, belakangan ini, saung itu pun saya gunakan untuk menerima tamu. Khususnya kawan-kawan saya yang berkunjung ke rumah.

Namun, saat di saung, saya teringat kabar dari Faiq tadi. Tentu sebelumnya dalam hati, saya sudah mendoakan kakak ipar saya itu. Agar Corona segera enyah dari tubuhnya. Juga tak sampai menular ke kakak saya. Pun keponakan-keponakan saya.

Di saung itu pun saya merenung. Saya khawatir, karena invasi Corona kian mendekat. Hari ini kakak ipar saya yang terpapar. Bisa saja setelah itu kakak saya.

Yang memang hari-harinya bersentuhan langsung dengan virus itu. Sebab, kakak saya adalah seorang tenaga kesehatan.

Profesinya adalah ATLM (Ahli Teknologi Laboratorium Medik). Yang tugasnya menegakkan diagnosa dokter. Dengan hasil pemeriksaan laboratoriumnya. Untuk memastikan: apakah seseorang terpapar Corona atau tidak?

Namun, saya yakin, kakak ipar saya bukan tertular dari kakak saya. Sebab, saya tahu benar kakak saya itu. Orangnya sangat hati-hati sekali.

Tapi bukankah kakak ipar saya itu orangnya juga sangat hati-hati?

Lalu, kenapa masih terpapar?

Entahlah!

Pastinya, karena kakak ipar saya terpapar Corona itu, saya pun sempat berpikir: apakah Covid-19 pasti akan singgah di setiap tubuh manusia? Sehingga, setiap orang menunggu giliran saja untuk terpapar.

Tapi, saya menolak pikiran itu. Saya masih yakin, orang yang menjaga imunnya tetap kuat, dan menerapkan protokol kesehatan secara ketat, tidak akan terpapar.

Mungkin kakak ipar saya itu terpapar karena sempat teledor. Seketat-ketatnya ia menerapkan protokol kesehatan, tetap saja ia manusia. Yang tak luput dengan lupa.

Begitu juga saya. Pun Anda. Yang juga tak luput dengan lupa. Dan, saat lupa itulah, Corona menyerang kita.

Karenanya, jika sudah begitu, saya pun hanya bisa berdoa. Agar selalu diingatkan selalu menjaga protokol kesehatan.

Dan jika akhirnya nanti saya juga terpapar Corona, saya pun menganggapnya sebagai takdir-Nya. Terpenting, saya sudah ikhtiar dengan keras. Menerapkan protokol kesehatan.

Sebab, saya sepakat kata orang bijak itu: ketika ikhtiar sudah di garis batas, maka biarkan doa yang bertarung di langit.

Dan akhirnya, saya pun teringat doa yang disampaikan tokoh idola saya Abah Dahlan Iskan. Sesaat ia akan masuk ke ruang operasi. Untuk menjalani transplantasi hati.

Begini bunyi doanya: Tuhan, terserah Engkau sajalah. Terjadilah yang harus terjadi! (Wirahadikusumah)

 

Berita Terkait

Tol Inflasi
Piramida Terbalik
Sikap Keuangan
Bukan Gila
Galau Caleg
Kecolongan Lampura
Rampok Nekat
Strategi PDIP
Berita ini 39 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 11 Juli 2023 - 09:23 WIB

Tol Inflasi

Selasa, 27 Juni 2023 - 14:43 WIB

Piramida Terbalik

Selasa, 6 Juni 2023 - 09:07 WIB

Sikap Keuangan

Senin, 5 Juni 2023 - 09:19 WIB

Bukan Gila

Kamis, 6 April 2023 - 12:56 WIB

Galau Caleg

Berita Terbaru

LAMPUNG SELATAN

Pimpin APINDO Lamsel, Fikry Dorong Sinergi Pengusaha dan Pemerintah

Rabu, 29 Apr 2026 - 20:20 WIB

BANDAR LAMPUNG

Gelar Diskusi Olahraga, PWI Lampung Matangkan Kesiapan Porwanas 2027

Rabu, 29 Apr 2026 - 18:31 WIB