Sunguh…
Saya heran.
Bisa jadi Anda juga.
Kok bisa?
Bagaimana tidak, di saat pemerintah menetapkan harga eceran tertinggi (HET) Rp14 ribu per liter, minyak goreng langka.
Sementara, saat HET dicabut, lalu harga minyak goreng diserahkan ke mekanisme pasar, barangnya malah tersedia di mana-mana. Namun, dengan harganya yang menggila. Sampai ada yang menjual hingga Rp26.600 per liternya.
Informasi harga minyak goreng terkini itu dari istri saya. Kemarin sore (Kamis, 17/3/2022), ia mengungkapkan keheranannya kepada saya.
”Parah, harga minyak goreng. Masak barangnya sudah nggak langka, harganya malah gila-gilaan,” keluh istri saya.
Informasi yang saya dapat dari media online, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dalam konferensi persnya pada Selasa (15/3/2022) menyatakan, harga minyak goreng kemasan disesuaikan dengan harga keekonomian. Dengan begitu, akan mengikuti harga pasar.
Aneh bin ajaib!
Setelah diumumkan Menko Airlangga itu, dampaknya langsung pada ketersediaan pasokan minyak goreng. Barangnya langsung ada di mana-mana. Mulai minimarket, pasar tradisional, hingga supermarket dibanjiri minyak goreng.
Kok bisa seperti itu?
Tentu saya berspekulasi. Bisa jadi benar. Pun sebaliknya.
Saya menduga, permasalahannya ada di distributor. Yang sebelumnya bikin macet distribusi.
Sebab, mengapa ketika HET dicabut, minyak goreng tersedia di mana-mana. Dengan harga menggila. Sementara, ketika HET masih berlaku, barangnya malah langka.
Berarti, persoalan minyak goreng selama ini, bukan karena pasokan yang kurang, melainkan ada yang menahan pasokan. Sehingga saya menilai, permasalahannya ada di distributor.
Karenanya, saya berharap pihak kepolisian, ataupun Satgas Pangan, menelusuri distributor. Yang kemungkinan besar menimbun minyak goreng selama ini. Ketika HET diberlakukan.
Ayo, Pak Polisi, tangkap distributor nakal! Agar istri saya tak mengeluhkan harga minyak goreng lagi.
(Wirahadikusumah)









