Saya turut berbahagia mendengar kabar itu. Tentang PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VII itu. Yang katanya sudah mengakhiri kemelutnya itu.
Informasi yang saya baca di media online Rilislampung.id, PTPN VII pada tahun 2021 sudah mencatat keuntungan. Setelah dikabarkan sejak 2014 mengalami kerugian.
Direktur PTPN VII Ryanto Wisnuardhy yang menyatakan itu. Di hadapan Tim Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Lampung. Di PTPN VII Unit Bekri. Selasa (8/3/2022).
Kendati tidak menyebutkan berapa laba yang dihasilkan, Ryanto mengklaim perusahaannya telah mengakhiri era kerugian. Selama bertahun-tahun. Dan, 2021 adalah tahun titik balik pencapaian usaha PTPN VII.
Menurutnya, pencapaian ini tidak terlepas dari kerja keras semua lini manajemen PTPN VII. Yang mengusung operational excelence. Keberhasilan itu juga karena manajemen yang dijalankan sangat ketat menjalankan Good Corporate Governance (GCG).
Saya sepakat dengan apa yang dikatakan Ryanto Wisnuardhy itu. Saya sedikit tahu, bagaimana perusahaan pelat merah ini, yang tadinya cukup kaya, lalu merugi. Sejak 2014.
Awal meruginya PTPN VII itu sebenarnya karena memiliki utang masa lalu. Jumlahnya sampai Rp12 triliun. Utang itu disebabkan investasi massif yang dilakukan perusahaan tersebut. Sejak 2008-2014.
Bahkan, utang PTPN VII kala itu bukan dengan perbankan saja. Dengan suppliernya pun perusahaan ini berutang.
Sehingga, selama enam tahun itu, perusahaan ini berjalan terseok-seok. Manajemen dan karyawan harus mengencangkan ikat pinggang. Memutar otak. Melakukan efisiensi agar bisa terus bertahan.
Kinerja semua lini juga dipacu. Termasuk sektor keuangan. Untuk bisa meraup laba. Setelah terus-terusan dinyatakan merugi.
Selama enam tahun itu juga, media massa pun ikut menjadi “korban”. Tak ada lagi iklan atau advetorial dari PTPN VII menghiasi wajah media. Padahal sebelumnya, hampir sepekan sekali saya melihat logo perusahaan ini ada di media-media massa.
Di kala merugi itu, PTPN VII juga sampai melakukan revitalisasi aset. Memanfaatkan lahan kosong untuk dikerjasamakan dengan pihak ketiga.
Di segmen usaha perkebunan teh, yang berada di Gunung Dempo, Pagar Alam, Sumatera Selatan, PTPN VII pun sampai menggandeng pihak swasta.
Adalah PT Kabepe Chakra yang digandeng. Pada akhir 2018. Untuk bekerja sama. Mengoperasionalkan lahan seluas 1.500 hektar.
Apa yang dilakukan manajemen dan karyawan PTPN VII itu akhirnya membuahkan hasil. Perusahaan ini pun terbantu dengan naiknya harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO).
Seperti yang saya kutip dari media online, pada dua hari lalu, harga CPO sepanjang pekan ini, sukses mendaki tinggi. Bahkan sempat menyentuh level tertinggi sejak 42 tahun silam.
Harga kontrak berjangka CPO di Bursa Malaysia berada di level MYR 6.276/ton pada Jumat (4/3/2022). Sebelumnya, harga CPO mencapai level tertinggi masa (MYR 6.808/ton) sejak 1980.
Dalam sepekan, harga CPO naik 5,2%. Sedangkan sejak awal tahun sudah melesat 33,62%.
Saya yakin, kenaikan harga CPO itu lah, yang menjadi salah satu penyebab PTPN VII keluar dari kemelutnya. Di samping memang dibarengi dengan tingkat produksi komoditasnya. Itu pun kembali dengan kinerja karyawan yang bekerja keras untuk perusahaannya.
Melalui tulisan ini, saya mengucapkan selamat kepada seluruh manajemen dan karyawan PTPN VII. Atas pencapaian yang diraih.
Semoga bisa terus meraup keuntungan. Sukses selalu. Bravo PTPN VII!
(Wirahadikusumah)









